Giritirta, Pejawaran – Di antara bentang pegunungan Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, tersimpan sebuah desa dengan kekayaan alam dan kehidupan masyarakat yang menarik untuk dijelajahi. Desa Giritirta menawarkan perpaduan antara panorama pegunungan, sumber daya air, lahan pertanian yang subur, produk lokal, serta tradisi masyarakat yang masih terjaga.
Berjarak sekitar 33 kilometer dari pusat Kabupaten Banjarnegara, Giritirta berada di kawasan dataran tinggi yang identik dengan udara sejuk dan bentang alam hijau. Nama Giritirta sendiri berasal dari dua kata, yaitu giri yang berarti gunung dan tirta yang berarti air. Nama tersebut selaras dengan karakter geografis desa yang berada di kawasan pegunungan dengan sumber air yang melimpah.
Secara administratif, Desa Giritirta terdiri atas lima dusun, yaitu Beran, Melikan, Sendangarum, Giritirta, dan Pandanarum. Masing-masing menjadi bagian dari kehidupan desa yang bertumpu pada pertanian, usaha masyarakat, serta tradisi lokal. Kekayaan tersebut memberikan peluang bagi Giritirta untuk berkembang tidak hanya sebagai desa agraris, tetapi juga sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman wisata berbasis alam dan kehidupan masyarakat.
Zagita: Tiga Pesona Air Terjun dalam Satu Perjalanan
![]() |
![]() |
Foto: Tim KKN-PPM UGM Pijar Pejawaran 2026
Salah satu kekayaan alam yang menjadi daya tarik Desa Giritirta adalah Zagita (Zurga Air Giritirta). Berada di Dusun Melikan, kawasan ini menawarkan pengalaman berbeda karena pengunjung dapat menemukan tiga air terjun dalam satu kawasan, yaitu Air Terjun Genting, Air Terjun Gita, dan Air Terjun Merawu.
Dikelilingi pepohonan, perbukitan, serta aliran sungai yang masih jernih, Zagita menghadirkan suasana alami yang cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati ketenangan jauh dari keramaian perkotaan. Udara pegunungan yang sejuk semakin melengkapi pengalaman menikmati panorama alam Giritirta.
Ketiga air terjun tersebut memiliki karakteristik tersendiri. Air Terjun Genting memiliki ketinggian sekitar 70 meter, sementara Air Terjun Merawu menjulang sekitar 60 meter. Di antara keduanya terdapat Air Terjun Gita, yang memiliki daya tarik berupa sumber air panas alami. Keberadaan air panas di tengah kawasan air terjun membuat Zagita memiliki karakter wisata alam yang unik. Perpaduan tiga karakter air terjun inilah yang membuat Zagita memiliki daya tarik berbeda.

Foto: Tim KKN-PPM UGM Pijar Pejawaran 2026
Menjelajahi Zagita bukan hanya tentang mencapai air terjun. Perjalanan menuju lokasi justru menjadi bagian menarik dari pengalaman berkunjung. Setelah mencapai titik terakhir yang dapat dilalui kendaraan bermotor, wisatawan perlu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit. Sepanjang perjalanan, pengunjung akan melewati sungai yang jernih, kebun kopi milik masyarakat, hamparan tanaman sayuran, serta perbukitan yang mengelilingi kawasan Giritirta.
Kondisi alamnya yang masih terjaga menjadikan Zagita layak dikenal sebagai salah satu hidden gem di Kabupaten Banjarnegara. Potensi tersebut juga membuka peluang pengembangan wisata berbasis masyarakat, di mana aktivitas pariwisata dapat berjalan berdampingan dengan kegiatan pertanian dan kehidupan sehari-hari warga.
Bramasti Kopi: Secangkir Cerita dari Pegunungan Giritirta
![]() |
![]() |
Foto: Tim KKN-PPM UGM Pijar Pejawaran 2026
Jika Zagita memperkenalkan Giritirta melalui keindahan alamnya, maka Bramasti Kopi membawa nama desa melalui cita rasa.
Kondisi pegunungan dan kesuburan tanah Giritirta mendukung tumbuhnya tanaman kopi Arabika dan Robusta. Potensi perkebunan tersebut kemudian dikembangkan masyarakat melalui pengolahan hasil panen menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Salah satunya adalah Bramasti Kopi yang berada di Dusun Pandanarum.
Bramasti Kopi dirintis oleh Kelompok Karya Tani pada tahun 2018. Perjalanannya bermula dari kegiatan belajar bersama untuk meningkatkan pengetahuan anggota mengenai kopi dan proses pengolahannya. Dari ruang belajar kelompok tersebut, kegiatan kemudian berkembang menjadi usaha pengolahan dan pemasaran kopi lokal.
Perjalanan ini memperlihatkan bagaimana komoditas pertanian dapat dikembangkan lebih jauh melalui peningkatan pengetahuan dan pengolahan pascapanen. Kopi yang sebelumnya merupakan hasil perkebunan dapat hadir sebagai produk lokal dengan identitas dan nilai jual yang lebih kuat.
Cita Rasa yang Menjadi Identitas
![]() |
![]() |
Foto: Tim KKN-PPM UGM Pijar Pejawaran 2026
Bramasti Kopi menawarkan dua jenis kopi utama, yakni Arabika dan Robusta. Produk dipasarkan dalam bentuk kopi bubuk dengan pilihan kemasan 100 gram, 250 gram, 500 gram, hingga 1 kilogram. Berdasarkan kualitasnya, tersedia kelas reguler, premium, dan specialty. Kopi tersebut dapat dinikmati dengan berbagai metode, mulai dari cara tradisional seperti kopi tubruk hingga metode seduh V60.
Karakter rasa menjadi salah satu kekuatan Bramasti Kopi. Kopinya dikenal memiliki cita rasa yang kuat, sementara Arabikanya menghadirkan karakter fruity, aroma khas, dan tingkat keasaman yang seimbang. Proses pengolahan turut menjadi perhatian, termasuk menjaga kadar air biji kopi pada kisaran ideal sekitar 12 persen.
Kualitas tersebut memperoleh pengakuan ketika Bramasti Kopi berhasil meraih Juara 2 Nasional pada Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI) Tahun 2021. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa kopi yang tumbuh dan diolah di Giritirta mampu bersaing dengan produk kopi dari berbagai daerah di Indonesia.
Kini, Bramasti Kopi telah menjangkau konsumen dari Magelang, Yogyakarta, hingga Dieng. Upaya memperkenalkan produk juga dilakukan dengan mengikuti berbagai kegiatan dan membuka stan di luar desa. Tingginya permintaan bahkan membuat ketersediaan stok menjadi salah satu tantangan yang perlu dihadapi dalam pengembangan usaha.
Pengunjung yang datang langsung juga dapat merasakan suasana berbeda. Bangunan bernuansa kayu memberikan kesan hangat dan nyaman untuk menikmati kopi. Di sinilah pengalaman wisata dan produk lokal dapat bertemu: wisatawan tidak hanya membeli kopi, tetapi juga dapat menikmati produk tersebut langsung dari desa tempat kopi tumbuh dan diolah.
Ondol-Ondol: Sederhana, Lokal, dan Penuh Cita Rasa
Selain kopi, kekayaan kuliner Giritirta juga hadir melalui Ondol-ondol, makanan tradisional berbahan dasar singkong. Olahan ini menjadi bagian dari kekayaan pangan lokal yang diwariskan masyarakat dan menghadirkan cita rasa khas dari bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga.
Lebih dari sekadar makanan tradisional, Ondol-ondol menunjukkan bagaimana hasil pertanian lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tambah. Dengan pengembangan produk dan pemasaran yang tepat, kuliner ini memiliki potensi untuk menjadi salah satu oleh-oleh khas Desa Giritirta bagi wisatawan.
Dari Tanah Giritirta, Tumbuh Beragam Hasil Pertanian
Pertanian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Giritirta. Kondisi dataran tinggi dengan udara sejuk, tanah yang subur, curah hujan yang mendukung, serta ketersediaan sumber air memungkinkan masyarakat mengembangkan beragam komoditas.
Bagi Giritirta, pertanian bukan sekadar kegiatan menghasilkan pangan. Sektor ini menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat sekaligus menyediakan bahan baku bagi tumbuhnya berbagai usaha lokal. Sebagian hasil panen dijual dalam bentuk segar, sementara sebagian lainnya memiliki peluang untuk diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Kopi: Komoditas yang Mengangkat Identitas Desa
![]() |
![]() |
Foto: Tim KKN-PPM UGM Pijar Pejawaran 2026
Kopi menjadi salah satu komoditas unggulan Giritirta. Kondisi geografis desa mendukung pengembangan Arabika dan Robusta dengan karakter rasa yang khas.
Menariknya, rantai nilai kopi tidak berhenti setelah masa panen. Kehadiran UMKM seperti Bramasti Kopi memperlihatkan bagaimana hasil perkebunan dapat diolah dan dipasarkan sebagai produk lokal dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Hal tersebut menjadikan kopi memiliki peran strategis bagi desa. Di satu sisi, kopi menjadi sumber pendapatan dari sektor perkebunan. Di sisi lain, produk olahannya dapat memperkuat UMKM sekaligus menjadi bagian dari identitas Giritirta yang diperkenalkan kepada wisatawan.
Lumbu Melikan: Keunikan yang Lahir dari Alam Giritirta
.jpg)
Foto: Tim KKN-PPM UGM Pijar Pejawaran 2026
Komoditas lain yang menarik adalah Lumbu Melikan. Secara umum, lumbu merupakan tanaman umbi-umbian yang termasuk kelompok talas. Tanaman ini memiliki daun lebar menyerupai hati, sementara bagian daun, batang, dan umbinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan setelah melalui pengolahan yang tepat.
Di Giritirta, khususnya Melikan, lumbu memiliki karakter yang dikenal berbeda. Daun mudanya bertekstur lembut, memiliki cita rasa segar, dan tidak menimbulkan rasa gatal setelah dimasak. Keunikan tersebut dipercaya masyarakat berkaitan dengan lahan pertanian yang memperoleh aliran air panas alami mengandung belerang dari kawasan Zagita.
Lumbu juga memiliki potensi pengolahan lebih lanjut. Umbinya dapat dimanfaatkan menjadi Keripik Busil, sehingga komoditas yang semula berupa hasil pertanian dapat memperoleh nilai tambah sebagai produk pangan lokal.
Keunikan Lumbu Melikan memperlihatkan hubungan menarik antara kondisi alam, pertanian, dan kuliner lokal. Karakter geografis Giritirta tidak hanya membentuk panorama desa, tetapi juga turut mewarnai hasil bumi yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Jagung: Dari Hasil Ladang Menjadi Kuliner Tradisional

Foto: Tim KKN-PPM UGM Pijar Pejawaran 2026
Jagung menjadi komoditas pangan sekaligus salah satu sumber pendapatan masyarakat. Hasil panennya dapat dipasarkan secara langsung maupun dimanfaatkan sebagai bahan pangan.
Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah nasi jagung, kuliner tradisional yang masih dikenal masyarakat Giritirta. Keberadaannya menunjukkan bahwa hasil pertanian juga memiliki dimensi budaya karena menjadi bagian dari kebiasaan pangan masyarakat yang diwariskan dari waktu ke waktu.
_(1).jpg)
Foto: Tim KKN-PPM UGM Pijar Pejawaran 2026
Labu merupakan komoditas hortikultura lain yang dapat ditemukan di Giritirta. Selain dimanfaatkan sebagai bahan pangan, hasil panennya memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan, salah satunya keripik.
Pengolahan hasil panen seperti ini penting karena memungkinkan komoditas pertanian memperoleh nilai jual yang lebih tinggi sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Sawi: Sayuran dari Sejuknya Dataran Tinggi
.%5B1%5D.jpg)
Foto: Tim KKN-PPM UGM Pijar Pejawaran 2026
Udara sejuk Giritirta juga mendukung budidaya sawi. Komoditas ini memiliki masa tanam relatif singkat dan permintaan pasar yang stabil, sehingga dapat menjadi salah satu sumber pendapatan rutin bagi petani.
Keberadaan sawi bersama kopi, jagung, labu, dan Lumbu Melikan memperlihatkan keragaman pertanian Giritirta. Keragaman tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat perekonomian masyarakat sekaligus mendukung pengembangan produk pangan lokal.
Warok dan Kuda Lumping: Tradisi yang Tetap Hidup
.jpg)
Foto: Tim KKN-PPM UGM Pijar Pejawaran 2026
Giritirta tidak hanya tumbuh melalui kekayaan alam dan hasil pertaniannya. Di tengah masyarakat, seni dan budaya tradisional tetap dijaga sebagai bagian dari identitas desa. Tradisi tersebut bukan sekadar tontonan. Pertunjukan seni menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, menjaga kebersamaan, serta meneruskan warisan budaya kepada generasi berikutnya. Dua kesenian yang masih dikenal dan dipentaskan di Giritirta adalah Warok dan Kuda Lumping.
![]() |
![]() |
Foto: Tim KKN-PPM UGM Pijar Pejawaran 2026
Salah satunya adalah Warok, kesenian yang menampilkan nilai kepahlawanan, keberanian, dan ketangguhan melalui gerakan yang gagah. Tradisi ini memiliki akar dalam kebudayaan Jawa, khususnya Ponorogo, dan dikenal sebagai bagian dari pertunjukan Reog.
Selain Warok, masyarakat juga melestarikan Kuda Lumping atau Jaran Kepang. Tarian ini menggambarkan prajurit berkuda dengan properti berbentuk kuda yang terbuat dari anyaman bambu. Perpaduan gerak tari, musik tradisional, dan suasana pertunjukannya menjadikan Kuda Lumping sebagai atraksi yang selalu menarik perhatian masyarakat.
Di Giritirta, pertunjukan tersebut biasanya hadir sebagai pelengkap berbagai kegiatan masyarakat, seperti syukuran dan bersih desa. Sebelum pertunjukan berlangsung, rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama dan prosesi gunungan sebagai ungkapan rasa syukur serta harapan akan keberkahan dan hasil panen yang melimpah. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana seni, nilai spiritual, dan kebersamaan tetap berjalan berdampingan dalam kehidupan masyarakat Giritirta.
Giritirta: Satu Desa, Beragam Cerita
Desa Giritirta menyimpan beragam potensi yang tumbuh selaras antara kekayaan alam, kehidupan masyarakat, dan warisan budaya. Tanah pegunungan yang subur menghasilkan berbagai komoditas pertanian yang menjadi sumber penghidupan sekaligus mendorong perkembangan UMKM lokal. Pesona alam Zagita, berpadu dengan kesenian Warok, Kuda Lumping, dan tradisi masyarakat yang terus dilestarikan, semakin memperkuat karakter khas desa.
Perpaduan antara pariwisata, pertanian, UMKM, dan budaya menjadi kekuatan bagi Giritirta untuk terus berkembang dengan tetap menjaga potensi lokalnya. Berkunjung ke Giritirta tidak hanya menawarkan kesempatan menikmati keindahan alam, tetapi juga mencicipi produk lokal serta mengenal lebih dekat kehidupan dan tradisi masyarakat. Lebih dari sekadar destinasi, Giritirta menghadirkan cerita tentang alam yang menghidupi, masyarakat yang berkarya, dan budaya yang tetap lestari dari generasi ke generasi.
Mari mengenal lebih dekat dan temukan pesona Desa Giritirta, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara.
Penulis: Tim KKN-PPM UGM Pijar Pejawaran 2026
.jpg)




.jpg)



.jpg)